Pada masa Timur Lenk, infrastruktur rusak, sehingga hasil pertanian dan pekerjaan lain sangat menurun. Pajak yang diberikan daerah-daerah tidak memuaskan bagi Timur Lenk. Maka para pejabat pemungut pajak dikumpulkan. Mereka datang dengan membawa buku-buku laporan. Namun Timur Lenk yang marah merobek-robek buku-buku itu satu per satu, dan menyuruh para pejabat yang malang itu memakannya. Kemudian mereka dipecat dan diusir keluar.
Timur Lenk memerintahkan Nasrudin yang telah dipercayanya untuk menggantikan para pemungut pajak untuk menghitungkan pajak yang lebih besar. Nasrudin mencoba mengelak, tetapi akhirnya terpaksa ia menggantikan tugas para pemungut pajak. Namun, pajak yang diambil tetap kecil dan tidak memuaskan Timur Lenk. Maka Nasrudin pun dipanggil.
Nasrudin datang menghadap Timur Lenk. Ia membawa roti hangat.
“Kau hendak menyuapku dengan roti celaka itu, Nasrudin ?” bentak Timur Lenk. “Laporan keuangan saya catat pada roti ini, Paduka,” jawab Nasrudin dengan gaya pejabat.
“Kau berpura-pura gila lagi, Nasrudin ?” Timur Lenk lebih marah lagi. Nasrudin menjawab takzim, “Paduka, usiaku sudah cukup lanjut. Aku tidak akan kuat makan kertas-kertas laporan itu. Jadi semuanya aku pindahkan pada roti hangat ini.”
IURAN SOSIAL
Petugas tersebut lalu memanggil orang tersebut untuk membayar iuran dan berkata, "Penelitian kami menunjukkan bahwa pendapatan Anda setiap tahun sekurang-kurangnya 500 juta rupiah, tapi Anda sedikitpun tidak pernah membayar iuran untuk kegiatan sosial di kota ini. Apakah Anda tidak ingin kasihan sedikit pun pada masyarakat yang hidup berkesusahan?"
Pengacara itu terdiam sejenak lalu menjawab, "Apakah penelitian Anda juga menunjukkan bahwa ibu saya meninggal setelah lama sakit, yang ternyata biaya perawatannya jauh lebih besar daripada pendapatan saya?"
Pegawai kantor pajak itu diam sejenak, "Um ... tidak."
"Atau," lanjut pengacara itu, "saudara laki-laki saya, seorang veteran yang cacat, buta dan akhirnya terpaksa harus menggunakan kursi roda?"
Pegawai kantor pajak itu sebenarnya sudah ingin meminta maaf tetapi pengacara itu segera menyela, "Atau suami dari adik perempuanku yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas," kata pengacara itu dengan jengkel, "ternyata meninggalkan adikku tanpa uang sepeser pun dengan tiga orang anak?"
Pegawai kantor pajak itu menjadi sangat ketakutan, akhirnya ia berkata, "Ohh ... kalau begitu saya ...." Tiba-tiba, pengacara itu memotong perkataannya, "Jadi jika aku saja tidak pernah memberi uang pada mereka yang telah aku sebutkan tadi, bagaimana mungkin aku memberikannya untuk kantormu?"
Orang yang kikir tergesa-gesa mengejar harta, dan tidak mengetahui bahwa ia akan mengalami kekurangan. (Amsal 28:22)
Sumber: Joke of the Day.
Membayar Pajak Dengan Senyum
Direktur Jenderal Pajak sedang berbicara dihadapan sekelompok usahawan tentang kewajiban dan tanggung jawab membayar pajak.
“Adalah suatu kehormatan bagi kita sebagai warga negara untuk membayar pajak dengan tersenyum.” kata Direktur Pajak.
Tiba-tiba dari barisan belakang terdengar suara berteriak kegirangan
“Aduh, syukur !! tadinya kusangka bahwa pajak harus dibayar dengan uang.”
Prosedur Pelaporan dan Pembayaran Pajak
“Adalah suatu kehormatan bagi kita sebagai warga negara untuk membayar pajak dengan tersenyum.” kata Direktur Pajak.
Tiba-tiba dari barisan belakang terdengar suara berteriak kegirangan
“Aduh, syukur !! tadinya kusangka bahwa pajak harus dibayar dengan uang.”
(sumber: www.pogung.com)